Untuk membaca cerita selengkapnya klik sampul novel di atas 👆👆👆
Novel Catatan Cici mengisahkan perjalanan hidup seorang istri dan ibu dari tiga anak. Suaminya bekerja di Batam. Anak pertama bekerja di Suarabaya. Anak kedua kuliah di ISI Jogja. Anak ketiga kuliah di Unesa.
Semua berubah sejak bulan Ramadan tahun 2005. Sebuah peristiwa yang oleh orang-orang sekitar dianggap sebagai kesurupan, tetapi oleh Cici dirasakan sebagai perjumpaan dengan Tuhan. Ia merasa sedang dibaptis dan diberi nama baru, Sri Maharani. Sejak saat itu, ia lebih banyak menyendiri, menuliskan percakapannya dengan Tuhan, dan menempuh jalan sunyi yang tidak semua orang dapat memahami.
Sejak tahun 2016, Cici pulang ke Kebumen, menempati rumah warisan dari mertua yang menjadi saksi sunyi perjalanan batinnya. Hari-harinya diisi dengan menulis makalah sebagai refleksi atas dialog batinnya dengan Tuhan. Hal itu menyeretnya ke pusaran tuduhan. Ia divonis sebagai penista. Namun, dalam proses di persidangan, ia dinyatakan mengalami gangguan jiwa dan akhirnya dibebaskan dari hukuman.
Novel ini tidak bermaksud menghakimi, membenarkan, ataupun menyudutkan pihak mana pun. Ia hanya berusaha menghadirkan kemanusiaan tentang seorang ibu yang rapuh sekaligus teguh, tentang keluarga yang diuji oleh jarak dan stigma, dan tentang masyarakat yang kerap kali lebih cepat menilai daripada memahami.
Semoga kisah ini
dapat dibaca dengan hati yang terbuka, bukan untuk mencari benar dan salah
semata, melainkan untuk belajar tentang empati, tentang kesehatan jiwa, dan
tentang betapa kompleksnya pengalaman spiritual manusia. Akhir kata, semoga
novel ini memberi ruang perenungan bagi kita semua.











