PEMBANGUNAN GEDUNG TPQ AL IKHLAS WERGONAYAN
Pada hari Selasa Legi. 1 September 2026, pembangunan Gedung TPQ Al Ikhlas Tamansari diawali dengan selamatan tumpengan berisi nasi, ingkung, kluban, telur, mie, dan kering tempe. Setelah didoakan, tumpeng dimakan oleh para tukang yang akan mengerjakan bangunan gedung TPQ Al Ikhlas Wergonayan. Selamatan tersebut dimaksudnya sebagai permohonan kepada Tuhan yang Maha Esa, Allah SWT agar dari dimulainya pembangunan gedung TPQ sampai dengan selasai, semuanya dapat terlaksana lancar dan selamat. Gedung TPQ dapat makmur dengan banyak santri yang mengaji. Menjadikan generasi yang islami.
RABU WEKASAN 2026
Rebo Wekasan merupakan tradisi yang dikenal di berbagai daerah di Indonesia sebagai momentum memperbanyak doa dan ibadah. Tradisi ini dilaksanakan pada Rabu terakhir di bulan Safar dengan tujuan memohon perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai musibah dan bala. Rebo Wekasan tahun ini jatuh pada Rabu, 12 Agustus 2026, bertepatan dengan 28 Safar 1448 Hijriah.
Salah satu amalan yang banyak dilakukan adalah membaca doa memohon keselamatan dan perlindungan. Doa tersebut telah dikenal luas di kalangan umat Islam dan juga disebutkan oleh para ulama dalam berbagai kitab.
Doa keselamatan dan perlindungan, utamanya berisi permohonan agar Allah SWT menjaga diri, keluarga, dan seluruh kaum Muslimin dari berbagai keburukan, serta memberikan keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan. Namun, untuk santri TPQ Al Ikhlas Wergonayan yang masih Bocil (Bocah Cilik) mereka merasa bergembira saat Rebo Wekasan karena ada tradisi setelah mengamini doa dibacakan oleh Pak Kyai, dilanjutkan makan sate ayam yang enak, manis dan gurih.
Para Penguasa Kebumen di Era Kolonial
Kadipaten Panjer di bawah Kerajaan Mataram pada tahun 1642 dengan Ki Badranala sebagai adipati pertama. Panjer pada zaman penjajahan Belanda dijadikan gudang beras oleh Kerajaan Mataram. Panjer kerap menjadi medan pertempuran hingga Panjer berubah menjadi nama Kebumen pada tahun 1936.
Berikut ini para daftar penguasa Kebumen pada era kolonial.
1.
Ki Badranala (1642–1657)
2.
Ki
Hastrasuta (1657–1677)
3.
Tumenggung Kolopaking I (1677–1710)
4.
Tumenggung Kolopaking II (1710–1751)
5.
Tumenggung Kolopaking III (1751–1790)
6.
Tumenggung Kolopaking IV (1790–1833)
7.
Tumenggung Arung
Binang IV (1833–1861)
8.
Tumenggung Arung Binang V (1861–1890)
9. Tumenggung Arung Binang VI (1890–1908)
10. Tumenggung Arung Binang VII (1908–1934)
11. Tumenggung Arung Binang VIII (1934–1942)
Novel CATATAN CICI : Vonis Penista Sang Penyintas
Untuk membaca cerita selengkapnya klik sampul novel di atas ššš
Novel Catatan Cici mengisahkan perjalanan hidup seorang istri dan ibu dari tiga anak. Suaminya bekerja di Batam. Anak pertama bekerja di Suarabaya. Anak kedua kuliah di ISI Jogja. Anak ketiga kuliah di Unesa.
Semua berubah sejak bulan Ramadan tahun 2005. Sebuah peristiwa yang oleh orang-orang sekitar dianggap sebagai kesurupan, tetapi oleh Cici dirasakan sebagai perjumpaan dengan Tuhan. Ia merasa sedang dibaptis dan diberi nama baru, Sri Maharani. Sejak saat itu, ia lebih banyak menyendiri, menuliskan percakapannya dengan Tuhan, dan menempuh jalan sunyi yang tidak semua orang dapat memahami.
Sejak tahun 2016, Cici pulang ke Kebumen, menempati rumah warisan dari mertua yang menjadi saksi sunyi perjalanan batinnya. Hari-harinya diisi dengan menulis makalah sebagai refleksi atas dialog batinnya dengan Tuhan. Hal itu menyeretnya ke pusaran tuduhan. Ia divonis sebagai penista. Namun, dalam proses di persidangan, ia dinyatakan mengalami gangguan jiwa dan akhirnya dibebaskan dari hukuman.
Novel ini tidak bermaksud menghakimi, membenarkan, ataupun menyudutkan pihak mana pun. Ia hanya berusaha menghadirkan kemanusiaan tentang seorang ibu yang rapuh sekaligus teguh, tentang keluarga yang diuji oleh jarak dan stigma, dan tentang masyarakat yang kerap kali lebih cepat menilai daripada memahami.
Semoga kisah ini
dapat dibaca dengan hati yang terbuka, bukan untuk mencari benar dan salah
semata, melainkan untuk belajar tentang empati, tentang kesehatan jiwa, dan
tentang betapa kompleksnya pengalaman spiritual manusia. Akhir kata, semoga
novel ini memberi ruang perenungan bagi kita semua.
KLSKK MENJADI JURI MENULIS RESENSI 600 SISWA SMP NEGERI 3 KUTOWINANGUN
Kamis 5 Februari 2026, SMP Negeri 3 Kutowinangun melaksanakan Gelar Budaya Kabumian Spenagaku dan Gema Pemasyarakatan Literasi. Acara dibuka oleh Kepala Disarpus Kebumen Sigit Dwi Purnomo, M.Si. mewakili Bupati Kebumen. Hadir pada acara ini, dr. Reza Anggota Komisi C DPRD Provinsi Jawa Tengah, dan Dr. Agus Sunaryo, M.Pd. Kepala Disdikpora Kebumen.
Semua siswa SMP Negeri 3 Kutowiangun meresensi 600 buku yang telah disiapkan oleh Disarpus Kebumen. Buku telah dibagikan untuk dibaca oleh para siswa, beberapa hari sebelum kegiatan meresensi dilakukan secara massal. Acara semakin meriah dengan quiz yang disampaikan oleh dr. Reza. Siswa yang dapat menjawab dengan benar mendapat hadiah.
Pada kesempatan itu juga diberikan dua Hak Kekayaan Intelektual (HKI), yaitu (1) Gelar Budaya Kabumian Spenagaku, dan (2) Catatan Ci Ci : Studi Bahasa Dampak Perceraian Terhadap Gangguan Kestabilan Mental Anak.
KLSKK MENJADI JURI MENULIS RESENSI 1500 SISWA SMKN 1 KEBUMEN
Kamis, 8 Januari 2026, KLSKK mendapat tugas untuk menjadi tim penilai lomba menulis resensi oleh 1500 siswa SMK negeri 1 Kebumen. Acara ini diadakan dalam rangka HUT SMK Negeri 1 Kebumen yang ke-59. Tim dari Disapus Kebumen menyiapkan 1500 judul buku dan dibagikan kepada semua siswa SMK Negeri 1 Kebumen. Dengan antusias mereka membaca buku dna kemudian menulis resensi dari buku yang sudah dibacanya.
Peraih 12 besar, nilai resensi buku oleh siswa SMK Negeri 1 Kebumen, yaitu sebagai berikut:








.jpeg)










.jpeg)

